PENGARUH PROPAGANDA MEDIA TERHADAP ELEKTABILITAS PARTAI POLITIK PADA PEMILU 2024.


PENGARUH PROPAGANDA MEDIA TERHADAP ELEKTABILITAS PARTAI POLITIK PADA PEMILU 2024.

Pengaruh Propaganda Media Terhadap Elektabilitas Partai Politik Pada Pemilu 2024.

Disusun Oleh:TRI PRASETIO PUTRA MUMPUNI





PENDAHULUAN


Pada saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi di mana lebih dari setengah masyarakat Indonesia adalah kaum muda yang produktif serta kaum digital yang lebih dari 12jam menghabiskan waktunya di media sosial. Dan saat ini kita tengah memasuki bulan bulanpolitik pada pesta demokrasi tahun 2024 kurang lebih 2 tahun lagi kita akan menghadapidinamikapolitik digital.

Kecepatan informasi yang beredar di media sosial akan menimbulkan dinamika yangpanas pada kotestasi pemilihan umu tahun 2024. Partai politik harus menyiapkan berbagaistrategi pemenangan, salah satu caranya dengan menggunakan propaganda pada media sosialuntuk mendapatkan banyak suara, karna suara terbesar saat ini adalah generasi muda yangcenderunglekat denganmediasosial.

Elektabilitas partai politik akan sangat di pengaruhi oleh propaganda pada media sosial, propaganda terbagi dua yaitu propaganda positif dan negative. Maksud penulis mebuat essai ini bertujuan untuk partai politik bisa mengunakan media sosial sebagai ladang kampanye, dan dapat mengetahui kelemahan sertakelebihan media sosial pada kontestasi pemilihan umum.


PENGARUH PROPAGANDA MEDIA TERHADAP ELEKTABILITASPARTAI POLITIKPADAPEMILU2024

Partai politik berperan penting dalam dinamika pada pemilihan umum tahun 2024. Dinamika yang terjadi di masyarakat terjadi atas persainganan antara partai politik satu dengan partai poltik lainnya. Strategi-strategi partai politik dalam qmelakukan kampamye untuk bisa memenangkan pemilu 2024 menyebabkan naiknya tensipolitik di masyarakat. Partai politik harus menyiapkan dan menyusun strategi yang kongkrit dalam kontestasi pemilihan umum, strategi-strategi politik yang dimainkan partai politik seharusnya sesuai dengan apa yang diatur dalam aturan kampanye oleh banwaslu. Namunyangsering terjadi adalah strategi yang di mainkan banyak partai politik terkadang sering keluarjalur dari aturan yang berlaku, karna sejatinya ada satu hal yang tidak boleh terjadi dalampolitik yaitu kekalahan. Partai politik akan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuanyayaitukemenangan.Isu-isu di masyarakat tentang partai politik sangat mempengaruhi elektabilitas partai politik dalam dinamika pemilihan umum.

Berita-berita bohong atau berita hoax yang menyebar di qmasyarakat Indonesia tentang partai politik bisa menjadi penyebab turunya elektabilitas partai politik. Komifo temukan 3.356 kasus berita bohong yang terjadi pada pemilu 2019. Hal itu menyebakan naik turun nyaelektabilitas partai politik di kontestasi pelihan umum. Pengorengan isu dan fitnah soal partai politik harus bisa ditangulangi dengan propaganda-propaganda menarik yang dilakukan partai politik. Partai politik harus menyiapka strategi strategi yang kongkrit dalam menghadapibanyaknya berita bohong soal partai politik. Persiapan partai politik dalam menyikapi beritabohong di tahun pemilihan umum harus mulai di rancang mulai dari sekarang, pengorenganisu dan pencemaran nama baik akan banyak terjadi pada bulan bulan mendekati pemilihan umum pada era digital kali ini.

Era digital bisa menjadi peluang atau malah bisa menjadi boomerang terhadap elektabilitas partai politik. Peluang yang terbuka lebar untuk partaimpolitik bias berkampanyedan mengumpulkan suara serta membangun kepercayaan terhadap masyarakat sangat terbukalebar dalam era digital saat ini. Tapi dari peluang yang terbuka lebar itu juga terdapat banyaktantangan untuk partai politik salah satu nya banyaknmya berita bohong di pemilihan umum. Momentum pesta demokrasi yang dimanfaatkan orang-orang yang salah untuk menjatuhkan. 

lawan politik nya di media sosial harus bisa di tangulangi dengan baik oleh partai politik untuk dapat memenangkan dan menjaga elektabilitas selama bulan bulan pesta demokrasi. Kominfomejaring 717 berita hoax dan konten negative soal politik di media sosial pada pemilu tahun2019, hal ini menjadi gambaran beta berbahayanya berita hoax terhadap elektabilitas partaipolitik.Partai politik seharusnya menyiapkan langkah langkah kongkrit yang bias mengatasi berjamurnya berita hoax dan konten konten sensitive pada media sosial soalpartai poltik.

 Langkah-langkah yang dapat di lakukan partai politik yaitu menyiapkan konten-konten tandingan yang bisa menaikan elektabilitas partai politik dan menyiapkan propaganda sertaagitasi yang kuatb di media sosial agar kepercayaan masyarakat terhadap partai politik bisa terbangun sehingga masyarakat mau memilih partaipoltik itu.

Membuat konten-konten tandingan di media sosial dalam rangka menyikapi pengorengan isu soal partai poltik mejadi salah satu langkah yang kongkrit untuk menaikan elektabilitas partai politik di media sosial. Konten-konten yang mengadung unsur-unsur kebaikan serta unsur merakyat harus di gencarkan partai politik dalam mengagitasi masyarakat untuk mengajak masyarakat supaya bias percaya dan memilih partai politik tersebut. Mediasosial menjadi bahan propaganda terbaik pada zaman digital saat ini, partai politik harus biasmemanfaat kan peluang Yng terbuka yaitu terdapat 70,7% masyarakat Indonesia sebagaipenguna aktif media sosial. Jika partai politik sapat mendapatkan legitimasi masyarakat di media sosial itu akan berpengaruh dalam hasil pemilihan umum nantinya. Menyiapkan konten-konten tandingan agar isu isu dan berita hoax yang di gencarkan lawan politik dapat tertutup dengan konten konten positif yang partai politik gencarkan. Konten-konten yang mengambarkan bagaimana partai politik dapat menyampaikan aspirasi dari warganya dan partai politik sebagai pelupor perubahan untuk Indonesia yang lebih baik akan menjadi brending tersendiri untuk partai politik dapat memenangkat kontestasi pemilu 2024.

Membangun kepercayaan lewat media sosial menjadi hal yang penting dapat di katakan juga menjadi pilar utama dalam strategi pemenangan di pemilu. Setiap stake holder di partai politik harus bekerja sama dalam membangun elektabilitas di media sosial dan melawan berita berita hoax soal partai poltik. Pengaruh perilaku kader di media sosial juga sangat berpengaruh terhadap elektabilitas partai politik. Setiap kader harus mampu membangun elektabilitas partai guna membantu menumbuhkan rasa percaya masyarakat terhadap partai politik. Kesalahan kader berprilaku di media dapat menjadi boomerang dan senjata lawan politik untuk menjatuhkan elektabilitas partai politik.

Di dalam dunia politik segalahal di halalkan kecuali kekalahan, mempropagandakan isu dari lawan politik menjadi langkah yang strategis untuk menaikan elektabilistas partai politikdan menurunkan elektabilitas lawan politk, agar partai politik dapat memenangan kontestasi pemilu. Hal tersebut akan menjadi lumrah ketika sudah memasuki bulan politik saling menjatuhkan dan saling memproagandakan isu negative dari lawan-lawan politik menjadi cara dan strategi yang banyak di lakukan partai politik. Dengan cara menaikan berita yang menyakut isu lawan politik dapat membuat peluang kenaikan elektabilitas partai politik terjadi. Namun partai politik juga harus berhati-hati dengan isu yang berada dalam internal partaipolitik sendiri.

Partai politik harus mampu menjaga rahasia dan menjamin isu-isu negative yang berada dalam internal partai politik itu terjaga agar isu tersebut tidak di propagandakan lawan politik. Menjadi bahan acuan partai politik dalam mempertimbangkan strategi pemenangan dikontestasi pemilihan umum pada tahun 2024. Era digital dimana informasi beredar secara bebas dan cepat harus diawasi, dan di tangulangi jika terdapat isu yang menyangkut penurunantingkat kepercayaan dan elektabilitas partai politik harus bisa di lawan dengan propaganda-propaganda media yang bisa menaikan elektabilitas partai politk.

Partai politik harus mampu bersaing dalam media sosial, jika partai politik tidak dapat bersaing maka bisa dipastikan pada pemilu tahun 2024 akan menjadi kekalahan telak untuk partai politik. Indonesia saat ini tengah di landa bonus demografi dimana lebih dari setengahpenduduk Indonesia adalah kaum muda yang produktif, dimana kaum muda adalah kaum milenial atau generasi Z yang menghabiskan waktu lebih dari 12 jam di media sosial. Kemenangan terbesar partai poltik ketika partai poltik dapat menguasai media sosial denganmendominasi media maka partai politik juga mendominasi kampanye ke lebih dari 70,7% warga Indonesia.

Namun jiga media sosial tidak di pergunakan dengan sebagai mana mestinya maka media sosial akan menjadi boomerang yang mematikan untuk partai politik. Mediaakan cepat menyebarluaskan informasi-informasi yang bisa menyebabkan turunya elektabilitas partai, tingkahlaku kader partai politik di media sosial yang paling penting untuk di awasi, karna setiap kader dari partai politik memiliki sifat dan watak yang berbeda dalam mengunakan media sosial. Pentingnya edukasi dan pelatihan literasi digital dalam rangka menjaga etika dalam bermedia sosial ke para kader partai politik akan membantu partai politik agar dapat membangun elektabilitas partai politik.

Semua stakeholder di dalam ruang lingkup partai politik harus mampu menjaga sikap dan etika ketika tahun pesta demokrasi sedang berlangsung kesalahan ataupun isu yang muncul sedikit saja bisa menjadi bahan propaganda lawan politik untuk bisa menjatuhkan elektabilitas partai politik, propaganda juga bisa berfungsi sebagai alat agitasi terhadap masyarakat, dengan melakukan propaganda-propaganda fositif di media masyarakat akan teragitasi, setiap kegiatan partai poltik yang menunjukan sikap kerakyatan dan peduli terhadap masyarakat harus bisa dijadikan bahan propaganda partai poltik. Dalam dinamika yang sangat panas di dunia poltikpada saat tahun pesta demokrasi kader-kader dari partai politik harus bisa menyikapi nyadenganbaik dan dengan perhitungan yang terukur.

Adanya pengorenganisu negative terhadap partai poltik harus mampu disikapi dengan propaganda positif, dan melakukan propaganda balik terhadap lawan politik.Natinya dinamika di sosial media menjadi sangat panas ketika mendekati bulan bulan pemilihan umum. Sikap masyarakat terhadap partai politik akan sangat terlihat di media di mana banyak berita bohong yang mencuat dan beredardi masyarakat akan berimbas kepada elektabilitas partaipolitik.

Besar harapan penulis untuk pembaca terutama pembaca dari kalangan pelaku poltik untuk dapat bersama sama menjaga dinamika di media sosial saat pemilihan umum. Agar dinamika di media sosial tidak di manfaatkan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawabuntuk memecah belah bangsa Indonesia. Partai poltik harus memiliki batasan batasan saatmelakukan propaganda di media sosial, agar apa yang di propaganda tidak berimbas kepadakerukunan di masyarakat. Dinamika yang di ciptakan oleh partai politik akan bertahanlama karna media sosial akan banyak menyimpan informasi bahkan sampai pemilihan umum selesai. Masyarakat dan partai politik harus bisa bekerja sama untuk menjaga ketertiban saat kontestasi pemilu berlangsung.

Peran banwaslu menjadi sangat penting untuk bisa mengawasi setiap tingkah laku dan propaganda yang dimainkan oleh partai poltikdimedia sosial.Banwaslu harus bersikap tegas dan objektif ketika memang propaganda yang dilakukan oleh partai poltik dapat menimbulkan pergejolakan di masyarakat. Penulis harapkan di pemilihan umum 2024 setiap partai poltik bisa bersikap dewasa dalam kontestasi pemilihan umum. Bersaing boleh asal jangan merugikan masyarakat, karna sejatinya tujuan dari partaipolitik adalah untuk mensejahterkan masyarakat dan kadernya. Bagaimanapun yang nanti terjadi saatkontestasi berlangsung menjadi tanggung jawab bersama, kita harus bersiap mulai saat ini untuk memulai edukasi-edukasi tentang bagaimana mengunakan media sosial dengan bijak.







KESIMPULAN


Media sosial harus bisa digunakan dengan sebagai mana mestinya, straegi yang disiapkan partai poltik untuk mendapatkan suaradimedia sosial dan menjaga elektabilitas partai poltik harus di lakukan dengan penus perhitungan. Banyaknya berita hoax dan pengorengan isu oleh lawan politik dapat disikapi dengan bijak dan dengan propaganda yang baik. Menciptakan agitasi kerakyatan di media sosial akan dapat mengagitasi masyarakat agar dapat memilih partai poltik. Partai poltik harus mulai mengedukasi kadernya dan seluruh stake holder partai poltik agar dapat menjadikan media sosial menjadi media kampanye yang menguntungkan bukan malah merugikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INDUSTRIESTAD EN EXTREAM ARMOEDE

Gas Air Mata Yang Menyebabkan 135 Ibu Menangis.

KRAKATAU DAN TAHUN TERBURUK DUNIA