PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM MEMBANGUN KESADARAN MASYARAKAT AKAN PENTINGNYA KESEHATAN.

PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM MEMBANGUN KESADARAN MASYARAKAT AKAN PENTINGNYA KESEHATAN.


Disusun oleh : Tri Prasetio Putra Mumpuni





ABSTRAK

PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM MEMBANGUN KESADARAN MASYARAKAT AKAN PENTINGNYA KESEHATAN.

Rendahnya partisipasi kader berdampak pada kesadaran masyarakat untuk datang dalam kegiatan pemantauan tingkat status gizi anak, ibu hamil dan menyusui, yang pada akhirnya tidak dapat memenuhi kebutuhan data perkembangan status gizi anak balita di Posyandu. Kurangnya persepsi kader terkait pentingnya manfaat penimbangan berat badan balita menjadi hal yang sangat fatal ketika layanan kesehatan ini sedang berlangsung. 

Baik tidaknya persepsi kader ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi kader posyandu tentang manfaat penimbangan berat badan di posyandu. Desain penelitian ini adalah deskriptif. Populasi adalah seluruh kader posyandu Kelurahan Tanjungpura wilayah Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Kabupaten Karawang yang berjumlah 19 kader. Tekhnik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling dengan jumlah sampel 32 responden yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan peneliti. 

Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diperoleh dengan memberikan pada kader posyandu. Teknik analisa data menggunakan coding, scoring dan tabulating. Dari hasil penelitian terhadap 7 responden: sebagian besar yaitu sebanyak 8 responden (53,1%) kader berpersepsi negatif, sedangakan hampir setengahnya yaitu 7 responden (46,9%) kader berpersepsi positif. Hasil penelitian ini di rekomendasikan untuk penelitian lebih selanjutnya, diharapakan menindak lanjuti tentang persepsi kader posyandu tentang manfaat posyandu.




KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang saya panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga dapat menyelesaikan makalah sesuai dengan waktu yang ditentukan. Adapun penulisan makalah yang disajikan yaitu mengenai penelitian “Desa Tanjungpura”.

Terselesaikannya makalah ini dengan baik tentunya tak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu sehingga terselesaikannya makalah ini, terutama kepada Pemerintah Desa Tanjungpura atas segala informasi, dorongan, dan saran yang telah diberikan.

Dalam penyusunan makalah ini, saya menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna pada makalah ini, maka dari itu, saya selaku penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam penyempurnaan makalah ini.



Karawang, 23 Oktober 2022



Penyusun


PENDAHULUAN
Sejarah Desa Tanjungpura

Tanjungpura merupakan benteng pertama yang dibangun kompeni 1678 di luar Batavia. Benteng ini dibangun untuk kepentingan perdagangan, pertahanan, dan mengadili warga masyarakat yang dipandang membangkang kepada VOC. Setahun kemudian, pada 1679, benteng ini diserang dan dibakar oleh Wirasaba, bupati/patih Tanjungpura. Namun, akhirnya Wirasaba menyerah.

Kekhawatiran kompeni akan serangan susulan, diusulkanlah agar benteng dibuat permanen. Namun tidak terlaksana. Pada 1712 dilaksankan pemagaran sekeliling benteng dengan kayu yang tinggi, yang ujung atasnya diruncingkan. Baru pada 1749, benteng Tanjungpura dibangun lebih permanen menggunakan batubata. Melihat pentingannya benteng ini, pada tahun 1802 dibangun kembali lebih kokoh. Setelah pergantian gubernur jenderal menjadi HW Daendels, pada 1809 Daendels memerintahkan agar benteng dikosongkan.

Berselang dua tahun, pada 1811, ia memerintahkan untuk menjual benteng beserta lahannya. Pada 1812 benteng dan lahannya ada yang membeli, tapi pada 1813 benteng Tanjugpura dirobohkan. Dilansir dari Ayobandung, Minggu (12/9/2021), lokasi benteng Tanjungpura berada di tempuran Ci Beet dengan Ci Tarum. Kawasan ini menjadi strategis sejak lama Ketika kopi menjadi komoditas ekspor yang sangat menguntungkan, setelah dipanen, kopi disetorkan dan ditimbang di gudang-gudang kecil, kemudian diangkut ke gudang-gudang yang lebih besar, di antaranya di Cikaobandung.

Saat itu belum ada jalan yang dapat dilalui pedati. Karung-karung kopi dipikul oleh penduduk, atau ditumpuk di punggung kerbau, karena itulah binatang yang paling tangguh di medan pegunungan, lalu beriringan menuju gudang-gudang yang lebih besar di Cikaobandung. Ketika kopi dari Priangan ditongkangkan di dermaga Cikaobandung (+40 m dpl) di pinggir aliran Ci Tarum, (kini termasuk Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta), setelah mengalun di Ci Tarum sejauh 45 km dari Cikaobandung, akan sampai di pos/benteng Tanjungpura.

Dari benteng Tanjungpurna, tongkang itu masih mengalun sejauh 85 km menuju Muaragembong (+ 0 m dpl). Ketika di Laut Jawa terjadi pasang surut, permukaan air lautnya turun, maka perahu akan meluncur lebih cepat menuju muara. Dari muara Ci Tarum perjalanan tongkan bermuatan kopi masih belum berakhir. Dari sana dilanjutkan menyusuri pinggiran Teluk Jakarta menuju Batavia.

Jauh sebelum itu, di muara Ci Tarum, terdapat Kerajaan Tarumanagara, pada saat ini lokasinya berada di Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Kabupaten Karawang. Pada saat kejayaannya, candi-candi itu berada di muara Ci Tarum, di pinggir pantai, sehingga muara sungai menjadi pelabuhan alami, tempat melabuhkan kapal-kapal dari berbagai kawasan.

Candi-candi di komplek percandian Batujaya itu berwarna putih, karena susunan bata merahnya dilapisi, dilepa, diplester dengan stuko (stucco) memakai kapur padam.

Sejak abad ke V, teknologi lepa stuko sudah dikenal dan menjadi salahsatu keahlian warga di Kerajaan Tarumanagara. Menurut Hasan Djafar (2000, 2010) hampir di semua kaki candi di komplek percandian Batujaya terdapat lapisan kapur padam antara 1-2 cm. Dari muara sungai Ci Tarum saat itu, candi-candi di sana laksana teratai yang mekar di atas air.

Pembuatan kapur padamnya di kawasan perbukitan batukapur di Pekapuran, Pangkalan, Karawang. Kawasan ini dilintasi Ci Beet, anak Ci Tarum, sebagai sarana pengangkutannya. Batukapur padam diproses dengan pembakaran di Pekapuran, Pangkalan. Kemudian hasilnya, kapurpadamnya, diangkut dengan perahu atau tongkang. Setelah mengalun sejauh 45 km dari Pekapuran akan sampai di tempuran Ci Beet dengan Ci Tarum, yang pada zaman kompeni di sini didirikan benteng Tanjungpura. Dari lokasi ini masih perlu melanjutkan pengarungan Ci Tarum sejauh 17 km, baru akan sampai di lokasi komplek percandian Batujaya.

Di lokasi yang sangat penting pada zamannya itu, kini tak memperlihatkan tanda-tanda apapun. Memperkuat jejaknya, di sana masih terpelihara Vihara Sian Djin Kupoh (Vihara Ma Ku Poh), walau pun arah hadapnya yang semula ke arah Ci Tarum, kini telah disesuaikan dengan ketentuan pembangunan vihara. Setelah memperhatikan peta benteng Tanjungpura yang dihimpun F de Haan, dapatlah diduga letak benteng Tanjungpura, yaitu berada di sisi selatan Ci Tarum, di sisi barat Jl Raya Pasar Bojong.

Setidaknya ada empat titik yang perlu diberi penanda sebagai bukti perjalanan sebagian sejarah Karawang di sepanjang aliran Ci Beet dan Ci Tarum, pertama di Pekapuran, kedua di Tanjungpura, ketiga di Batujaya, dan keempat di Ujungkarawang. Sebetulnya lima titik, bila Cikaobandung dimasukan, karena pada zaman kompeni, kawasan ini termasuk Distrik Karawang.

Latar Belakang

Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Sumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan oleh bekerjasama dengan masyarakat untuk melaksanakan pembangunan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan orang penting Nyaman untuk pengadaan barang. Kematian ibu dan anak. Mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang mengoptimalkan potensi tumbuh kembang 4.444 anak apabila sistem pelayanan kesehatan berbasis masyarakat seperti Posyandu dilaksanakan secara efektif dan efisien serta dapat mencapai semua tujuan yang diperlukan Upaya dapat merata. Pelayanan, Salah satunya Pelayanan Tumbuh Kembang, Tumbuh Kembang Anak (Depkes RI,2006:11).

Kunci keberhasilan pengembangan program posyandu adalah tumbuhnya partisipasi masyarakat (Syarifudin, 2009). Partisipasi didapatkan dari keaktifan ibu balita datang ke posyandu, hal tersebut dapat dilihat dari motivasi ibu balita untuk datang ke posyandu. Menurut Notoatmodjo (2010), mencari pelayanan kesehatan dapat terwujud dalam tindakan jika hal itu dirasakan sebagai 4 kebutuhan sedangkan kebutuhan merupakan dasar dari terjadinya motivasi. Semakin tinggi motivasi, semakin tinggi intensitas perilakunya (Asnawi, 2007). Dengan demikian motivasi yang tinggi untuk membawa balita ke posyandu menjadi rutin, posyandu merupakan sarana kesehatan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balita sehingga motivasi ibu membawa balita ke posyandu mempengaruhi kunjungan balita ke posyandu (Notoatmodjo, 2010). Penelitian Imam dan Nova (2012), menyimpulkan ada hubungan antara motivasi ibu dengan tingkat kehadiran balita di posyandu.

Kesadaran masyarakat yang masih kurang di Desa Tanjungpura yang masih kurang, dan kurangnya kader serta terbatas nya bidan menyebebkan banyak masyarakat yang belum medapatkan pelayanan posyandu yang maksimal.

Rumusan Masalah

Faktor penyebab kurangnya kesadaran dan rendahnya kehadiran balita serta ibu hamil di POSYANDU wilayah kerja Desa Tanjungpura?

Tujuan Penelitian

Menumbuhkan kesadaran di masyarakat akan pentingnya imunisasi.

Mendorong kehadiran ibu hamil dan balita ke posyandu

Menjadi kajian untuk pemerintah agar bisa menjamin kesejahteraan kader posyandu.

Menjadi kajian pemerintah agar bisa melakukan perbaikan serta pemenuhan sarana prasana posyandu.





POTENSI DESA TANJUNGPURA


Kecamatan Karawang Barat

Kecamatan Karawang Barat merupakan Bagian wilayah dari 30 Kecamatan di Kabupaten Karawang yang diresmikan berdirinya pada tanggal 09 Maret 2005. Kecamatan Karawang Barat, membawahi 8 (delapan) Kelurahan, yaitu, Adiarsa Barat, Nagasari, Karawang Kulon, Karangpawitan, Tanjungpura, Tanjungmekar, Tunggakjati, Mekarjati.

Data Topografis Kelurahan Tanjungpura

   Berikut ini merupakan Data Topografis Kelurahan Tanjungpura, sebagai berikut: 

Luas wilayah 3.473,797 Ha (Darat= 1.732,815 Ha dan Sawah = 1.740,682 Ha) Letak ketinggian, ± 20 meter dari permukaan laut. Jarak dari Kantor Lurah ke Kantor Bupati Karawang adalah 4 Km jarak tempuh normal 10 menit.

DEMOGRAFIS 

Dalam Tabel-tabel berikut dapat dilihat jumlah penduduk Kelurahn Tajungpura, berdasarkan klasifikasi-klasifikasi. 


Penduduk Berdasarkan Pekerjaan 

JENIS JUMLAH


1.PNS

299

2.TNI/POLRI

31

3.PENSIUNAN

225

4.PETANI PEMILIK

117

5.PETANI PENGGARAP

267

6.BURUH TANI

937

7.PEGAWAI SWASTA

1.123

8.PEDAGANG

1.175

9.WIRASWASTA 

359

10.PERTUKANGAN

191

11.PERTERNAKAN

81

12.TUKANG OJEK

176

13.UKANG BECAK

41

14.PENGRAJIN

15

15.PENJAHIT

53

16.MONTIR

98

17.SUPIR

269

18.IBU RT

3.501

19.1/2 PENGANGGURAN

200

20.SEDANG SEKOLAH

6.759

21.BELUM SEKOLAH

1.725

TOTAL

20.284


 Sumber: Data Monografi Kelurahan Tahun 2010 

Tabel Penduduk Berdasarkan Kelompok 

KELOMPOK UMUR


1.00-04

755


2.05-09 

1812


3.10-14

1775


4.15-19

1755


5.20-24

1814


6.25-29

2078


7.30-34

1813


8.35-39

1582


9.40-44

1399


10.45-49

1151


11.50-54

866


12.55-60

692


13.<60

1234



 Data Potensi penduduk yang dapat dilihat dalam tabel-tabel di atas, merupakan lahan potensi yang perlu dioptimalkan perannya oleh perangkat Birokrasi di tingkat Kelurahan. 

Tanjungpura merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Indonesia. Tanjungpura berbatasan langsung dengan Kabupaten Bekasi.

Di kelurahan ini terdapat sebuah pondok pesantren kuno yang terkenal (Pondok Quro), yang didirikan oleh seorang ulama akbar penyebar agama Islam yang bersumber Champa, yaitu Syekh Hasanuddin bin Syekh Yusuf Siddiq, yang juga dikenal dengan nama Syekh Quro (Qurotul Ain). Kelurahan ini termasuk kelurahan paling vital di kecamatan Karawang Barat, karena menghubungkan daerah Karawang Kota menuju Perlintasan Tol Jakarta-Cikampek.[1]

Referensi

Makam Syekh Quro, Copyright © 2012 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karawang. Diakses 10 Januari 2012


Banyaknya Dusun, RW, RT di Desa Tanjungpura

Desa/Kelurahan : Tanjungpura

Jumlah Dusun    : 0

Jumlah RW         : 16

Jumlah RT          : 54


Jumlah Kepala Keluarga dan Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Tanjungpura

Desa/Kelurahan : Tanjungpura

Jumlah Kepala Keluarga : 6.159

Laki-Laki : 9.059

Perempuan :  9.086

TOTAL : 18.145


Jumlah Layanan Pendidikan di Desa Tanjungpura

Desa/Kelurahan : Tanjungpura

Paud/TK/RA : 24

SD/MI : 7

SMP/MTS : 1

SMA/MA : 0

SMK : 6

Akademi/PT : 1

Jumlah Sarana Layanan Kesehatan di Desa Tanjungpura

Desa/Kelurahan : Tanjungpura

Rumah sakit : 2

Rumah bersalin : 0

Puskesmas : 1

Klinik pengobatan : 3

Posyandu : 19

Apotek : 2

PEMBAHASAN

Pembahasan Masalah

Faktor penyebab kurangnya kesadaran dan rendahnya kehadiran balita serta ibu hamil di POSYANDU wilayah kerja Desa Tanjungpura, banyak faktor-faktor penyebab kurangnya kesadaran masyarakat terutama ibu hamil dan balita untuk datang ke posyandu. Di dalam pembahsan ini akan memaparkan faktor-faktor penyebab kurangnya kesadaran msyarakat untuk dan ke posyandu.

Faktor yang pertama adalah kurangnya edukasi di masyarakat tentang betapa pentingtnya keshatan serta imunisasi untuk bayi dan balita, masyarakat masih belum tau jika imunisasi dan pengecekan ibu hamil itu perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan dari ibu dan balitanya, padahal setiap minggunya selalu di lakukan pemberutahuan tentang adanya imunisasi untuk bayi dan balita. Tapi masyarakat masih menganggap bahwa imunisasi dan pengecekan kesehatan ibu hamil itu di anggap remeh, perlunya melakukan edukasi dari rumah ke rumah agar semua masyarakat tau akan pentinya imunisasi dan pengecekan untuk bayi dan balita serta ibu hamil. Nanti nya mereka akan mau untuk datang dan memeriksakan bayi serta ibu hamil agar kesehatan masyarakat di Desa Tanjungpura bisa merata.

Faktor yang kedua adalah tidak layaknya sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Desa Tanjungpura, di POSYANDU Desa Tanjungpura sarana dan prasarana kesehatan masih sangat tertimnggal dan belum memadai untuk menunjang kebutuhan masyarakat, hal ini menyebabkan tidak efektifnya pelayana kesehatan di desa Tanjungpura, di POSYANDU yang kami datangin kami melihat bayi dan balita di timbang menggunakan timbangan yang tidak seharus nya untuk manusia, mereka di timbang mengunakan timbangan beras yang sangat membahayakan serta tidak pasti nilai dari hasil timbangan tersebut. Dan di POSYANDU desa Tanjungpura yang kami kunjungi pelayan kesehatan di lakukan di sebuah pos ronda yang sudah mulai rapuh, lantai nya sudah tidak lagi rata, menyebabkan timbangan untuk balita harus di luruskan dan di ganjal mengunakan kertas, sehingga hasil dari timbangan balitan dan orang dewasa tidak pasti sering berubah ubah, perlunya melakukan perbaikan sarana dan prasarana di seluruh POSYANDU di desa Tanjungpura agar pelayanan kesehatan di masyarakat bisa berjalan dengan masksimal.

Faktor ketiga adalah SDM kesehatan yang kurang memadai bayangkan saja dari 19 POSYANDU yang ada di desa tanjung pura hanya ada 1 bidan yang aktif dan harus melayani seluruh kebutuhan masyarakat di desa Tanjungpura setiap mingunya, seharusnya Menurut peraturan PERMENKES di setiap kelurahan/desa minimal ada 3 bidan aktif untuk bisa memenuhi dan memberikan pelayan ke masyarakat desa. Namun yang terjadi di desa tanjung pura hanya ada 1 bidan aktif dan harus melayani 19 posyandu di kelurahan Tanjungpura. Kader POSYANDU para kader posyandu juga menjadi problematika yang harus segera di selesaikan pada posyandu Dahlia 1 yang kami survey terdapat 3 kader yang membantu bidan, dan mereka hanya di gajih sebesar Rp150.000 per- 3 bulan, hal ini sangat tidak layak untuk Kader yang harus memberikan pelayanan dari pagi sampai siang. Dan dari uang itu pula kader POSYANDU masih sering menambahkan untuk kebutuhan posyandu karna dana dari Dinas Kesehatan belum mencukupi, kesejahteraan kader dan bidan di desa Tanjungpura harus segera di selesaikan agar kader dan bidan bisa melakukan pelayanan secara profesional dan maksimal ke masyarakat desa Tanjungpura.

Miris melihat di tengah kota Karawang yang indah germerlap dengan industri industri besar, masih ada sarana kesehatan yang belum memadai, seharusnya di kota besar seperti Karawang ini sarana dan prasara sudah matang dan siap melayani masyarakat.

Pemerintah kabupaten karawang harusnya segera melakukan pembenahan di segala sektor terutama di sektor kesehatan masyarakat. Karna kesehatan masyarakat sangat penting bagi berjalanya suatu daerah bahkan bangsa. Di saat covid-19 Indonesia bahkan dunia mengalami dampak yang besar sarana harus segera di perbaiki karna kesehatan berpengaruh ke segala sektor. 

Terjaminnya kesejahteraan kader dan bidan di desa Tanjungpura akan menyongsong dan mendorong kemajuan di dunia kesehatan, terutama kesehatan balita bayi dan ibu hamil. Sarana dan prasarana juga harus menjadi bahan utama dalam perbaikan sarana prasarana di desa tanjung pura, sarana prasara juga sangat membantu perbaikan sistem kesehatan. Selain kesejahteraan dan sarana, masyarakat nya pun harus sadar akan penting nya memeriksakan bayi dan balita serta kandungan ke posyandu, kurang nya kesadaran msyarakat akan menyebabkan masyarakat yang cenderung bersifat tidak peduli akan kesehatan dan akan berdampak ke segala sektor di masyarakat.

Menurut data KEMENKES dari seluruh PUSYANDU yang ada di indonesia hanya ada 46% yang di anggap layak dan bisa memberikan pelayanan maksimal, hal ini menunjukan masih kurang kesadaran masyarakat dan pemerintah terhadap kesehatan warganya, lebih dari 200T pda 2020 uang yang di keluarkan pemerintah untuk dunia kesehatan tapi masih daja banyak POSYANDU yang tidak layak untuk pelayanan imunisasi dan ibu hamil, pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan dan segera memperbaiki sistem mulai dari bayah yaitu sitem pelayanan kesehatan paling bawah POSYANDU.

Di desa Tanjungpura sendiri dari 19 POSYANDU menurut pengamatan kelompok kami seluruh posyandu masih belum bisa memberikan pelayanan maksimal untuk masyarakat. Dari tabel berikut:


Data kelayakan POSYANDU

NAMA POSYANDU

KELAYAKAN


1. DAHLIA 1

60%


2.DAHLIA 2

70%


3.DAHLIA 3

50%


4.DAHLIA 4

80%


5.DAHLIA 5

40%


6.DAHLIA 6

50%


7.DAHLIA 7

70%


8.DAHLIA 8

60%


9.DAHLIA 9

65%


10.DAHLIA 10

55%


11.DAHLIA 11

70%


12.DAHLIA 12

49%


13.DAHLIA 13

30%


14.DAHLIA 14

60%


15.DAHLIA 15

80%


16.DAHLIA 16

70%


17.DAHLIA 17

75%


18.DAHLIA 18

70%


19.DAHLIA 19

70%


Berdasarkan penilaian kami yang kami lakukan di posyandu desa Tanjungpura menggunakan metode penelitian survey dari 1-100 di tabel di atas adalah hasil penilaian kami.

Tabel di atas menunjukan bahwa dari seluruh posyandu hanya beberapa yang point nya di atas 70 sisa nya di bawah 65 dan dari tabel itu kami menyimpulkan bahawa pelayanan POSYANDU di desa Tanjungpura belum mampu memberikan pelayanan maksimal terhadap masyarakat desa Tanjungpura.


Solusi

Pemerintah kabupaten Karawang dan desa Tanjungpura harus segera melakukan perbaikan di sitem pelayanan kesehatan terutama POSYANDU di desa Tanjungpura, ada banyak cara yang bisa di lakukan seperti:

Perbaikan sistem pembayaran kader POSYANDU

Kesejahteraan kader di POSYANDU desa Tanjungpura menjadi hal yang krusial dan berdampak besar, baik buruknya kinerja kader akan terlihat jika kesejahteraan nya terjamin, kader kader di desa Tanjungpura belum sejahtera, dan setiap kegiatan pelayan di selengarakan gakih mereka terkadang terpakai oleh kurangnya dana atu fasilitas dari pemerintah, bisa di bilang gajih mereka pun hanya untuk memutup kekuranagan biayaya saat acara POSYANDU berlangsung.

Perbaikan sarana dan prasarana POSYANDU

Sara dan prasara akan menjadi faktor utama dalam proses pelayana kesehatan kepada bayi dan ibu habil berlangsung, sarana dan prasarana yang tersedia di POSYANDU desa yanjung pura masih belum cukup memadai dan bekerja maksimal untuk memenuhi dan melayani masyarakat desa tanjung pura, pemerintah kabupaten Karawang dan desa Tanjungpura harus segera melakukan perbaikan di sarana dan prasarana desa.

Pengadaan alat penunjang yang terbaru dan memadai.

Alat alat medis penunjang pelayanan kesehatan masyarakat di POSYANDU sudah tertinggal zaman dan kurang memadai seperti timbangan, alat tensi, tas tempat suntikan dan berbagai alat lain nya itu banyak yang sudah rusak dan tidak bekerja secara optimal, serta menghambat proses pelayanan di POSYANDU. Pemerintah kabupaten Karawang dan desa Tanjungpura harusnya menyiapakn alat alat yang terbaru yang dapat menunjang pelayanan di posyandu secara maksimal.



KESIMPULAN

   Pembahasan di atas merupakan hasil kajian asli yang kami buat dan dapat di pertanggung jawabkan, serta apa yang kami kaji dan kami tulis sesuai dengan apa yang terjadi di pelayanan kesehatan desa tanjung pura. Permasalahan dan solusi yang dipapakar di harapkan bisa menjadi bahan kajian serta pembelajaran untuk pemeritah kabupaten Karawang, pemerintah kelurahan Tanjungpura, dan seluruh masyarakat Tanjungpura agar bisa saling bekerja sama mewujudkan desa sehat untuk bayi dan ibu hamil. Dengan semua stake holder bekerjasama dan saling membantu maka yang menjadi harapan semua warga desa Tanungpura bisa terlaksana dengan baik. Mengubah sistem dan memperbaiki segala permasalan yang terjadi harus di lakukan dengan sesegera mungkin, dan apabila terjadi hambtan dalam prosesperbaikan harus di selesaikan secara cepat. Kesejahteraan kader, sarana dan prasarana, dan alat alat penunjang yang belum maksial serta memadai menjadi problem utama dalam sistem POSYANDU desa Tanjungpura, pemerintah harus segra memperbaiki dan menjadmin seluruh kebutuhan terpenuhi untuk kebaikan seluruh warga desa Tanjungpura.



DAFTAR PUSTAKA


 Data kependudukan dan catatan sipil 2012 www.disdukcapilkarawang.com

 Data Kemenkes RI 2021 www.kemenkesri.com

 Data Sekertariat Desa Tanjungpura. 2022

 Buku data wilayah Kab. Karawang. 2021

 Data Kependudukan dan catatan sipil Desa Tanjungpura 2022

 Berkas Data Desa Tanjungpura. 

 Berkas Data Kec. Karawang Barat

 Berkas Data Kab. Karawang

 Brainly.Com menulis KTI baik dan benar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INDUSTRIESTAD EN EXTREAM ARMOEDE

Gas Air Mata Yang Menyebabkan 135 Ibu Menangis.

KRAKATAU DAN TAHUN TERBURUK DUNIA